Review Novel "Love from A to Z" by SK Ali

 


Judul: Love from A to Z

Penulis: SK Ali


Review kali ini akan panjang dan bakal aku bagi dua. Kenapa? Karena novel ini menduduki sebagai novel terfavoritku yang pertama haha.


Meski di awal diberikan peringatan bahwa ini adalah kisah cinta, tapi sebenarnya novel ini membahas topik yang lebih luas.


Zayneb pergi ke Doha untuk mengunjungi Auntie Nandy selama dia diskors dari sekolahnya di Indiana. Zayneb diskors akibat menentang gurunya yang rasialis dan mengidap islamofobia akut bernama Fencer.


Lalu Adam yang ingin pulang ke Doha, ke keluarganya, setelah mendapat diagnosis sklerosis ganda. Dia keluar dari universitas, tapi takut membeberkan soal diagnosisnya. Penyakit itu yang menyebabkan ibunya meninggal.


Mereka bertemu di bandara London dan Adam menyadari mereka berdua mempunyai jurnal yang sama. Jurnal Keajaiban dan Keganjilan, terinspirasi dari The Marvels of Creation and The Oddities of Existence. Sebuah manuskrip di Museum of Islamic Art.


Ceritanya unik, dijabarkan dari sudut pandang Adam dan Zayneb dengan porsi yang pas. Dan ditulis dengan gaya jurnal Keajaiban dan Keganjilan milik mereka masing-masing.


Tokoh Adam digambarkan sebagai pria yang tenang, tapi selalu bersikap pragmatis demi pertahanan hidupnya. Lalu tokoh Zayneb yang menggebu-gebu. Dia yang tidak bisa diam saat didiskriminasi. Bukan hanya membela agamanya, dia bahkan membela temannya saat didiskriminasi oleh salah satu murid yang rasis. 


Kedua tokoh disertai kekurangan masing-masing. Meskipun Zayneb terlihat heroic, tapi dia bermasalah sama pengendalian emosinya. Menurutku itu adalah sesuatu yang wajar. Apalagi kalau ingat si Zayneb ini masih muda, masih sekolah. Justru aku salut dengannya yang berani berkata lantang demi menegakkan keadilan. 


Lalu Adam dan Zayneb melakukan hubungan yang manis, tapi mereka sangat mengerti aturan-Nya. Kita bisa melihat bahwa keduanya sangat memegang teguh agama mereka dan tetap berteman baik dengan teman-teman Adam dari DIS (Doha International School) yang mayoritas dari mereka adalah non muslim. Dan solidaritas teman-temannya Adam membuatku terharu.


Yang membuat novel ini istimewa, selain kemampuan penulis yang oke banget, penulis sangat paham soal aturan pada agamanya. Pembawaannya santai, pesan moralnya masuk secara halus, tapi tetap pada aturan Islam. Justru Zayneb menggambarkan sosok yang tidak takut menyuarakan keadilan. Terkadang aku pun masih ada rasa takut untuk bersuara, terutama soal agama, karena takut menyinggung. Atau bahkan takut dicap sebagai orang yang paling religius. Padahal itu adalah anggapan yang salah. Zayneb justru dengan berani menyuarakan itu, dia bangga dengan status muslimah dan hijabnya. 


Namun bukan berarti Zayneb dan Adam tidak toleran dengan perbedaan. Bahkan teman-teman mereka mayoritas tidak beragama Islam dan bisa berteman dengan baik. Yang Zayneb tidak sukai adalah kebencian. Islamofobia merupakan bentuk dari kebencian. Penulis juga menceritakan bahwa dia mengalami sendiri pengalaman diskriminasi oleh orang-orang islamofobia. 


Membaca novel ini membuat hati teriris karena merasa ikut terluka atas apa yang terjadi pada Zayneb. Terenyuh akan kisah mualafnya Adam dan ayahnya. Selain itu ada perasaan hangat, karena novel ini benar-benar menggambarkan Islam dengan baik. Islam adalah agama yang dipenuhi kedamaian, memanusiakan manusia, dan muslim yang baik adalah yang mempunyai jiwa yang besar, yang melihat dunia ini dengan pandangan yang lebih luas.


Rasanya enggak rela berpisah dengan Adam dan Zayneb. Apakah aku akan membaca novel-novel SK Ali lainnya? Pasti!

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel "Love from Mecca to Medina" by SK Ali

Rangga Bukan Pujangga

Review Novel "Saints and Misfits" by SK Ali