Review Novel "All My Rage" by Sabaa Tahir
Judul: All My Rage
Penulis: Sabaa Tahir
Trigger warning for All My Rage: drug and alcohol addiction, sexual assault, physical abuse, islamophobia, racism.
Awalnya aku ragu untuk baca ini karena trigger warning yang aku sebutkan di atas. Tapi review di Goodreads ga bohong, ternyata bagus banget.
Aku pernah baca artikel, katanya ini based on kehidupannya Sabaa Tahir yang jatuh bangun mengelola motelnya. Kita ga akan menemukan cerita ala remaja yang disiarkan TV series Amerika. Novel ini menceritakan kepahitan menjadi seorang imigran. Diskriminasi warna kulit dan identitas mereka sebagai muslim.
Meskipun kita ga akan menemukan karakter utama yang sempurna dan taat agama. Sal (Salahudin), meskipun dia mempunyai ibu yang religius, tapi ayahnya seorang alcoholic. Setelah ditelusuri latar belakang ayahnya, ya cukup ada benang merahnya. Sal sampai nanya ke ibunya, ayahnya kan sholat, kenapa dia minum? Ditambah setelah kematian ibunya, Sal dikejar-kejar timbunan utang dan ayahnya ga kunjung sadar. Jadi gimana kita mengharapkan Sal tumbuh menjadi remaja yang baik-baik saja?
Noor, sahabat baiknya Sal, yang hidup bersama pamannya yang abusive. Orangtuanya meninggal saat gempa di Pakistan. Noor terpaksa bekerja di liquor store milik pamannya yang sangat anti sekali dengan Islam. Sampai Noor itu ga dibolehin datang ke tempatnya Sal, karena tau ibunya ngajarin soal Islam. Sepeda Noor juga disita waktu ketahuan Noor sholat berjamaah di masjid.
Aku sangat suka dengan penggambaran karakter Imam Shafiq dan Khodija. Mereka benar-benar the real of dakwah Islam. Karena dakwah Islam yang sebenarnya itu kita terjun langsung ke masyarakat dan bukan hanya sekedar berceramah di masjid. Aku suka saat Imam Shafiq dan Khodija menolong Sal untuk membantu ayahnya bangkit. Dan juga menolong Noor dari pamannya yang abusive.
Selama baca ini rasanya, ya Allah kapan ya mereka bahagia. Kayaknya masalah terus. Tapi ya mungkin ini realita pahit seorang imigran di Amerika.
“If we are lost, God is like water, finding the unknowable path when we cannot.” Salah satu perkataan Mishbah (ibunya Sal) yang aku suka.

Comments
Post a Comment